PENDIDIKAN keluarga (pendidikan in-formal)
merupakan salah satu jalur pendidikan dalam mendidik anak agar mampu menjalani
kehidupannya di masa mendatang. Pendidikan
anak dalam keluarga sangatlah urgen, agar anak tidak mengalami masalah dalam
menjalankan kehidupan bersosial, serta mampu mengatasi masalah-masalah yang
timbul akibat pergaulan dengan masyarakat sosial yang memiliki cakupan masalah
yang luas dan kompleks. Dalam proses
pendidikan, Pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan yang tertua, artinya
proses pendidikan yang dilalui setiap manusia, dimulai dari lingkungan keluarga.
Kemudian, pendidikan keluarga juga merupakan
pendidikan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak berada di
dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah pendidikan yang berlangsung di dalam
lingkungan keluarga. Menurut
Hasbullah, dalam tulisannya tentang dasar-dasar ilmu pendidikan, bahwa keluarga
sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi dalam
perkembangan kepribadian anak dan mendidik anak dirumah; fungsi keluarga/orang
tua dalam mendukung pendidikan di sekolah.
Menurut Thanthawy Djauhary, pendidikan
keluarga secara fundamental, bertanggung jawab dan harus melayani kebutuhan
fisik dan psikis anak selama mereka dalam pertumbuhan menuju kedewasaan. Dalam
hal ini, tanggung jawab berada pada pundak orang tua sebagai pendidik yang
kemudian bertanggung jawab atas keberhasilan seorang anak dalam bersikap dan berprilaku.
Demikian, karena salah satu faktor dominan yang mempengaruhi pola prilaku anak
dalam proses pendidikannya adalah lingkungan keluarga. Olehnya itu, pendidikan
keluarga merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan dalam proses pencapaian
tujuan pendidikan secara umum, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sebagaimana, Tujuan Pendidikan Nasional dalam Uundang-Undang No. 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3, yakni “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab”.
Beberapa pakar psikolog dan pakar pendidikan, menegaskan bahwa masa
kanak-kanak ditandai dengan pertumbuhan fisik, intelektual dan sosial. Selain
itu, atas dasar pemikiran bahwa anak usia dini dalam perkembangannya mengalami perubahan
yang sangat signifikan melalui proses transformasi dari apa yang ia dapatkan
dalam dunia atau lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, lingkungan keluarga
merupakan hal pertama yang dijumpai anak sebelum keluar dan mengenal lingkungan
sosial masyarakat secara luas. Sehingga, perkembangan perilaku anak pun di
dasari atas apa yang ia dapatkan dari kebiasan-kebiasan dalam lingkungan
keluarganya. Oleh karna itu, orang tua dalam pendidikan keluarga, hendaknya memberikan
dasar-dasar pendidikan sikap dan keterampilan dasar seperti, sopan santun,
etika, kasih sayang, mengetahui seta menaati peraturan-peraturan, menanamkan
kebiasaan-kebiasaan, dst, dengan nasehat serta perbuatan, sebab sikap dasar anak
adalah suka meniru.
* * * * * *
Sehubungan dengan pendidikan
keluarga di era globalisasi seperti saat ini, di mana perkembangan zaman
mengalihkan perhatian pada kemampuan bersaing dalam segala bidang demi mempertahankan
kelangsungan hidup umat manusia. Modernisasi secara global, menciptakan
industrialisasi secara menyeluruh dan
kompleks, yang kemudian menjadi momok dalam sejarah peradaban
manusia. Akibatnya, manusia disibukkan dengan berbagai macam aktifitas
sehari-hari untuk membangun perekonomian dalam keluarga. Dalam keluarga, orang tua mesti bekerja keras untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan keluarga, yang kemudian hal inilah yang menjadi salah satu
penyebab berkurangnya hubungan fisik maupun emosional antara orang tua dengan
anak dalam keluarga.
Orang tua yang sibuk bekerja untuk
meningkatkan perekonomi keluarga, terkadang kurang memiliki waktu luang
berinteraksi dengan anak-anaknya. Hal ini,
mengindikasikan bahwa keluarga telah kehilangan banyak peranannya yang hakiki
serta loyalitasnya terhadap anak. Hubungan antara orang tua dengan anak tampak
memiliki kesenjangan diantaranya. Orang tua sibuk dengan pekerjaannya,
sementara anak sibuk dengan pergaulannya. Sebagai konsekuensinya, pendidikan
karakter, sikap dan perilaku bagi anak-anak kini mengalami peralihan serta perubahan
dari berbagai aspek. Orang tua atau keluarga tidak lagi menjadi sumber utama
dalam membangun dan membentuk karakter, sikap dan perilaku anak. Namun, hal ini
lebih dititipkan pada pendidikan di sekolah-sekolah, serta berbagai
lembaga-lembaga pendidikan di luar dari pendidikan keluarga itu sendiri. Pendidikan
keluarga yang dianggap sebagai pendidikan pertama dan utama yang dilaui anak,
kini mengalamai kemerosotan yang cukup drastis. Dengan demikian, pendidikan
keluarga, kini tak mampu lagi berdiri sebagai pedoman dasar serta landasan yang
kuat dalam membentuk karakter, sikap dan perilaku setiap manusia.
Era globalisasi dalam perkembangan
mutakhirnya, sebagaimana Yasraf Amir Piliang, mengatakan
bahwa kini kita hidup di dalam dunia yang telah kehilangan batas-batas “kebudayaan”, yakni lenyapnya batas-batas
antara dunia anak-anak dengan dunia orang dewasa lewat transparasi media. Selain
itu, dengan memuncaknya budaya massa dan budaya populer serta
kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dahsyat, dengan menawarkan berbagai macam sarana pemenuhan ‘kebutuhan’. Di sini, suatu
peradaban baru dalam sejarah peradaban manusia telah
tercipta. Masyarakat modern dewasa ini,
telah tereduksi dengan peradaban baru, yang oleh Jean Baudrilliard (1929-2007)
dikatakannya, telah tercipta sebuah era kebudayaan baru, yakni kebudayaan post-modern. Tak terkecuali di
Indonesia. Sebagai konsekuensinya, masyarakat kini dilenakan dengan
kenikmatan-kenikmatan dunia teknologi-informasi yang
menjadi pusat perhatiannya. Hal ini, kemudian berdampak pula pada pendidikan
dalam keluarga.
Keluarga yang dulunya pernah
memberikan perasaan identitas psikologis, kepastian moral dan sosial, kini
digantikan perannya oleh media massa dan berbagai bentuk budaya populer.
Menjamurnya berbagai alat teknologi yang menampilkan berbagai macam kenikmatan,
seperti televisi yang kini lebih banyak menampilkan film yang bersifat
khayalan, handphone dengan berbagai macam aplikasi-aplikasi canggih, game
online, dst, telah mengalihkan perhatian masyarakat. Kemudian yang lebih parah
lagi, kini tidak ada lagi batasan-batasan bagi pengguna alat teknologi khususnya
media eletronik, seperti yang telah diuraikan
sebelumnya. Sistem pasar kapitalisme lanjut, telah menciptakan
kebudayaan baru melalui produk-produk yang penuh dengan kenikmatan-kenikmatan
yang bisa dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat, baik anak-anak maupun
orang dewasa. Dalam hal ini, peran keluarga sangat dibutuhkan
untuk mengontrol serta menjaga anak dari bahaya yang dapat ditimbulkan akibat
penyalahgunaan berbagai macam media eletronik yang memungkinkan anak terjerumus
kedalam lubang yang penuh kehancuran.
Dengan ini, suatu hal yang perlu untuk direnungkan bahwa pendidikan
keluarga merupakan suatu hal yang urgen dalam rangka
menciptakan generasi-generasi yang potensial, sebagaimana apa yang menjadi
tujuan pendidikan itu sendiri. Terciptanya karakter, sikap dan
perilaku anak adalah salah satu peran aktif pendidikan keluarga sebagai lembaga
pendidikan pertama dan utama yang dilalui anak. Orang tua sebagai pendidik,
meskipun sibuk mengurusi keperluan keluarga, diharapkan agar tetap
memperhatikan bagaimana perkembangan karakter, sikap dan perilaku anak,
terlebih di era globalisasi seperti saat ini, yang sarat akan kenikmatan sesaat. (Suherman, 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan dikomentari...