Minggu, 25 Desember 2016

Pendidikan Keluarga di Era Globalisai

PENDIDIKAN keluarga (pendidikan in-formal) merupakan salah satu jalur pendidikan dalam mendidik anak agar mampu menjalani kehidupannya di masa mendatang. Pendidikan anak dalam keluarga sangatlah urgen, agar anak tidak mengalami masalah dalam menjalankan kehidupan bersosial, serta mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul akibat pergaulan dengan masyarakat sosial yang memiliki cakupan masalah yang luas dan kompleks. Dalam proses pendidikan, Pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan yang tertua, artinya proses pendidikan yang dilalui setiap manusia, dimulai dari lingkungan keluarga. Kemudian, pendidikan keluarga juga merupakan pendidikan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak berada di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah pendidikan yang berlangsung di dalam lingkungan keluarga. Menurut Hasbullah, dalam tulisannya tentang dasar-dasar ilmu pendidikan, bahwa keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi dalam perkembangan kepribadian anak  dan  mendidik anak dirumah; fungsi keluarga/orang tua dalam mendukung pendidikan di sekolah.

Menurut Thanthawy Djauhary, pendidikan keluarga secara fundamental, bertanggung jawab dan harus melayani kebutuhan fisik dan psikis anak selama mereka dalam pertumbuhan menuju kedewasaan. Dalam hal ini, tanggung jawab berada pada pundak orang tua sebagai pendidik yang kemudian bertanggung jawab atas keberhasilan seorang anak dalam bersikap dan berprilaku. Demikian, karena salah satu faktor dominan yang mempengaruhi pola prilaku anak dalam proses pendidikannya adalah lingkungan keluarga. Olehnya itu, pendidikan keluarga merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan dalam proses pencapaian tujuan pendidikan secara umum, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagaimana, Tujuan Pendidikan Nasional dalam Uundang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3, yakni “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Beberapa pakar psikolog dan pakar pendidikan, menegaskan bahwa masa kanak-kanak ditandai dengan pertumbuhan fisik, intelektual dan sosial. Selain itu, atas dasar pemikiran bahwa anak usia dini dalam perkembangannya mengalami perubahan yang sangat signifikan melalui proses transformasi dari apa yang ia dapatkan dalam dunia atau lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, lingkungan keluarga merupakan hal pertama yang dijumpai anak sebelum keluar dan mengenal lingkungan sosial masyarakat secara luas. Sehingga, perkembangan perilaku anak pun di dasari atas apa yang ia dapatkan dari kebiasan-kebiasan dalam lingkungan keluarganya. Oleh karna itu, orang tua dalam pendidikan keluarga, hendaknya memberikan dasar-dasar pendidikan sikap dan keterampilan dasar seperti, sopan santun, etika, kasih sayang, mengetahui seta menaati peraturan-peraturan, menanamkan kebiasaan-kebiasaan, dst, dengan nasehat serta perbuatan, sebab sikap dasar anak adalah suka meniru.

* * * * * *

Sehubungan dengan pendidikan keluarga di era globalisasi seperti saat ini, di mana perkembangan zaman mengalihkan perhatian pada kemampuan bersaing dalam segala bidang demi mempertahankan kelangsungan hidup umat manusia. Modernisasi secara global, menciptakan industrialisasi secara menyeluruh dan kompleks, yang kemudian menjadi momok dalam sejarah peradaban manusia. Akibatnya, manusia disibukkan dengan berbagai macam aktifitas sehari-hari untuk membangun perekonomian dalam keluarga. Dalam keluarga, orang tua mesti bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga, yang kemudian hal inilah yang menjadi salah satu penyebab berkurangnya hubungan fisik maupun emosional antara orang tua dengan anak dalam keluarga.
Orang tua yang sibuk bekerja untuk meningkatkan perekonomi keluarga, terkadang kurang memiliki waktu luang berinteraksi dengan anak-anaknya. Hal ini, mengindikasikan bahwa keluarga telah kehilangan banyak peranannya yang hakiki serta loyalitasnya terhadap anak. Hubungan antara orang tua dengan anak tampak memiliki kesenjangan diantaranya. Orang tua sibuk dengan pekerjaannya, sementara anak sibuk dengan pergaulannya. Sebagai konsekuensinya, pendidikan karakter, sikap dan perilaku bagi anak-anak kini mengalami peralihan serta perubahan dari berbagai aspek. Orang tua atau keluarga tidak lagi menjadi sumber utama dalam membangun dan membentuk karakter, sikap dan perilaku anak. Namun, hal ini lebih dititipkan pada pendidikan di sekolah-sekolah, serta berbagai lembaga-lembaga pendidikan di luar dari pendidikan keluarga itu sendiri. Pendidikan keluarga yang dianggap sebagai pendidikan pertama dan utama yang dilaui anak, kini mengalamai kemerosotan yang cukup drastis. Dengan demikian, pendidikan keluarga, kini tak mampu lagi berdiri sebagai pedoman dasar serta landasan yang kuat dalam membentuk karakter, sikap dan perilaku setiap manusia.

Era globalisasi dalam perkembangan mutakhirnya, sebagaimana Yasraf Amir Piliang, mengatakan bahwa kini kita hidup di dalam dunia yang telah kehilangan batas-batas  “kebudayaan”, yakni lenyapnya batas-batas antara dunia anak-anak dengan dunia orang dewasa lewat transparasi media. Selain itu, dengan memuncaknya budaya massa dan budaya populer serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dahsyat, dengan menawarkan berbagai macam sarana pemenuhan kebutuhan’. Di sini, suatu peradaban baru dalam sejarah peradaban manusia telah tercipta. Masyarakat modern dewasa ini, telah tereduksi dengan peradaban baru, yang oleh Jean Baudrilliard (1929-2007) dikatakannya, telah tercipta sebuah era kebudayaan baru, yakni kebudayaan post-modern. Tak terkecuali di Indonesia. Sebagai konsekuensinya, masyarakat kini dilenakan dengan kenikmatan-kenikmatan dunia teknologi-informasi yang menjadi pusat perhatiannya. Hal ini, kemudian berdampak pula pada pendidikan dalam keluarga.

Keluarga yang dulunya pernah memberikan perasaan identitas psikologis, kepastian moral dan sosial, kini digantikan perannya oleh media massa dan berbagai bentuk budaya populer. Menjamurnya berbagai alat teknologi yang menampilkan berbagai macam kenikmatan, seperti televisi yang kini lebih banyak menampilkan film yang bersifat khayalan, handphone dengan berbagai macam aplikasi-aplikasi canggih, game online, dst, telah mengalihkan perhatian masyarakat. Kemudian yang lebih parah lagi, kini tidak ada lagi batasan-batasan bagi pengguna alat teknologi khususnya media eletronik, seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Sistem pasar kapitalisme lanjut, telah menciptakan kebudayaan baru melalui produk-produk yang penuh dengan kenikmatan-kenikmatan yang bisa dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat, baik anak-anak maupun orang dewasa. Dalam hal ini, peran keluarga sangat dibutuhkan untuk mengontrol serta menjaga anak dari bahaya yang dapat ditimbulkan akibat penyalahgunaan berbagai macam media eletronik yang memungkinkan anak terjerumus kedalam lubang yang penuh kehancuran.

Dengan ini, suatu hal yang perlu untuk direnungkan bahwa pendidikan keluarga merupakan suatu hal yang urgen dalam rangka menciptakan generasi-generasi yang potensial, sebagaimana apa yang menjadi tujuan pendidikan itu sendiri. Terciptanya karakter, sikap dan perilaku anak adalah salah satu peran aktif pendidikan keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama yang dilalui anak. Orang tua sebagai pendidik, meskipun sibuk mengurusi keperluan keluarga, diharapkan agar tetap memperhatikan bagaimana perkembangan karakter, sikap dan perilaku anak, terlebih di era globalisasi seperti saat ini, yang sarat akan kenikmatan sesaat. (Suherman, 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan dikomentari...